Gadget – PDA bagi Dokter

PalmOne Treo 650hp Ipaq 4150

Personal Digital Assistant (PDA) merupakan perangkat genggam yang dirancang untuk memudahkan penggunanya dalam aktivitas sehari-hari. Bentuknya mungil , mudah digenggam (handheld device; gadget), seukuran kantong (pocket-sized), layar sentuh (touch screen) dengan alat tulis khusus berbentuk pena (stylus) dan memiliki sistem operasi tertentu (misalnya: Palm OS, Windows Mobile/Pocket PC, GNU/Linux, Symbian OS).


Belakangan muncul konvergensi PDA dan telepon genggam (handphone) yang disebut PDA-Phone maupun SmartPhone dengan kemampuan koneksi nirkabelnya (wireless) seperti infra red (IrDA), Bluetooth maupun wifi (wireless fidelity). Berhubungan dengan fungsi teleponnya, maka bisa juga digunakan GPRS (General Packed Radio Services), CDMA (Code Division Multiple Access) dan yang sedang dikembangkan di Indonesia adalah EDGE (Enhanced Data rates for GSM Evolution).

Banyak model yang sudah beredar dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Sebagai dokter, perlukah kita menggunakan PDA?

Fungsi PDA bagi Dokter:

PDA dapat membantu kita dalam hal:

  • mempermudah akses informasi pribadi (PIM-Personal Information Manager), daftar kontak, memo dan jadwal kegiatan (Task, To-do List)
  • membaca artikel elektronik (e-book yang di-download dari internet)
  • membagi informasi antar pengguna PDA secara nirkabel
  • pembuatan resep online (berlaku di beberapa negara)
  • mempermudah penyimpanan data pasien secara mobile (mobile EMR)
  • mempermudah pekerjaan bidang anda sesuai dengan perangkat lunak (software) yang ada (misalnya: software Journal Club untuk yang senang melakukan penelitian)
  • mempermudah penyimpanan informasi/data yang disinkronisasi dengan komputer/notebook
  • mempermudah akses informasi ke database pasien (misalnya: koneksi PDA dengan server masing-masing poliklinik/bagian)

9 Balasan ke Gadget – PDA bagi Dokter

  1. Deddy mengatakan:

    hmm… bisa ngga dokter (di Indonesia) menfaatin PDA kayak gt?😀

  2. Dani Iswara mengatakan:

    saat ini sptnya br bs utk download & baca e-book..utk mobile dbase family practice jg bs ded..lainnya nunggu kesiapan jaringan mis. intranet/wireless network masing2 dept..tgt kebutuhan..

  3. Lakshmi Nawasasi mengatakan:

    Menurut saya, PDA penting sekali dimiliki seorang dokter. Semenjak saya pakai PDA phone O2 mini, banyak sekali manfaat yang saya dapatkan. Misalnya di kala senggang saya bisa mereview ulang ilmu kedokteran yang saya simpan dalam file my document di PDA (tidak seperti dulu lagi harus bawa pocket book setebal bantal),bisa menyimpan rumus konversi yang berhubungan dengan penanganan pasien, bisa mengingatkan saya untuk jadwal tertentu, bisa melihat kembali tehnik operasi yang akan dilakukan (karena semuanya telah tersimpan rapi di PDA), bisa mengabadikan kasus pasien dalam bentuk foto dan bisa diperlihatkan ke pasien sewaktu edukasi di ruang praktek. Sewaktu menghadiri seminar profesi, PDA dapat dipakai untuk merekam slide yang diberikan pembicara. Kesimpulannya PDA adalah alat ajaib yang ampuh.

  4. Dani Iswara mengatakan:

    setuju bu..kecanggihannya hrs bs kita manfaatkan dg baik..apalagi kl wifi (wireless fidelity) dah tersedia dimana-mana..btw..senang “utak-atik” jg ya bu..

  5. Lakshmi Nawasasi mengatakan:

    O.. utak atik itu kudu Dan … harus !! hehehe .. asal pas ga ada angin lemot/telmi aja. PDA itu udah kayak jimat karena semua data tumplek aplek disana …yaa contekan, ya daftar utang, yaa daftar belanjaan .. Soal wifi .. nah ini dia saya belum pernah nyoba tuh, gimana sih caranya (tulis dong uraiannya di blog mu Dan …). Katanya buka email gratis ya ? atau ‘binatang’ apaan sih wifi itu. Selama ini kan kalo buka email lewat PDA, akhir bulan juga ada tagihannya hehehe ..

  6. Dani Iswara mengatakan:

    iya..para senior saya liat banyak yg pake pda/ponsel pintar-lah..ada jg yg aktif ‘ngoprek’..ok deh bu..tulisan wifi-nya nyusul ya..

    btw file2-nya banyak jg ya bu..hati-2..ingat buat back up-nya di pc/notebook via sync..

  7. Putu Arya mengatakan:

    BTW kalo pas coass bawa pda gak dimarah ama dokter pembimbing ya? saya berpikir apa sempat saat memeriksa pasien buka aplikasi dll? BTW gimana sih prinsip kerja menggunakan pda saat praktik? apa misal ditanya dulu pasiennya terus cek pda (btw aplikasi apa ya?) baru bikin diagnosis? Mohon infonya..

  8. Dani Iswara mengatakan:

    » Putu Arya:
    ya kulturnya ada yg beda dgn di luar negeri sana..
    justru PDA digunakan utk membantu review pasien saat lap kasus

    tgt tujuan pendidikan saat itu, kl utk lat menghapal ya PDA jgn dipake dl..:D

    saat praktik:
    – membantu edukasi pasien (anatomi, fisiologi; foto, flash, animasi, dll)
    – ada aplikasi yg berisi daftar obat, daftar diagnosis banding, kalkulator medis (hitung kebutuhan cairan, dll)
    – aplikasi sederhana dpt berupa eBook (bikin sendiri aja biar sesuai kebutuhan..), perangkat lunak (gratis) yg dah jd (diagnosaurus, medcalc, abxguide, dll)
    – kl dah yakin dx/-nya ya gpp, tp kl ragu trus ditetapkan seingatnya tanpa dicek langsung sumber yg lain ya keselamatan pasien jg jd tanda tanya..

  9. dokter.wiend mengatakan:

    Lebih dibutuhkan lagi open access!!!
    Udah mahal-mahal beli iPAQ, harus beli software yang legal
    mBajak deh ya….

%d blogger menyukai ini: