Health Informatics – Surveilans dan Standar Data

Suatu sistem surveilans kesehatan masyarakat (Public Health Surveillance System) di masa kini banyak didukung oleh perkembangan teknologi elektronik. Seharusnya arus data yang dikumpulkan pun menjadi lebih cepat / real-time, mampu memonitor perkembangan / penyebaran kejadian kesehatan / penyakit (tren) di masyarakat serta bermanfaat bagi para pengambil kebijakan bidang kesehatan untuk melakukan tindakan yang tepat dan segera. Namun, nampaknya masalah standardisasi data masih akan menjadi topik hangat pada perkembangan sistem surveilans di beberapa negara termasuk Indonesia.

The National Electronic Disease Surveillance System (NEDSS) merupakan salah satu organisasi yang mengembangkan proses standardisasi data kesehatan mulai dari pengumpulan data, manajemen, pertukaran / pengiriman, analisis, akses dan diseminasi. Berikutnya akan disesuaikan dengan kondisi di negara kita.

Pengumpulan data
Suatu masalah kesehatan biasanya ditemukan dan dilaporkan oleh penyedia pelayanan kesehatan seperti: puskesmas, dokter swasta, bidan, balai pengobatan, laboratorium dan rumah sakit. Isu penting yang ada adalah apakah format laporan yang digunakan sudah memenuhi standar yang ada secara nasional? Apakah definisi kasus tiap kejadian penyakit sudah terjabarkan secara jelas? Diperlukan juga format standar yang memudahkan pertukaran data secara elektronik nantinya. Untuk kemudahan dan kecepatannya, data bisa dikirimkan dalam bentuk kertas, menggunakan sms, telepon, faksimil, email, disket, flash-disk atau bahkan PDA dan beberapa daerah sudah memiliki wide area network maupun sistem informasi berbasis web. Data dikirimkan ke level pemerintahan lokal / dinkes kabupaten / kota, dinkes propinsi dan seterusnya hingga ke Depkes pusat. Pengumpulan data sebaiknya juga bersifat aktif, jangan hanya pasif.

Manajemen data
Untuk mencegah multiplikasi data, diperlukan suatu sistem pendataan identitas penduduk yang baik dan unik. Nantinya juga dibutuhkan suatu software register database yang mampu memfilter data ganda tersebut. Standar arsitektur data sebaiknya ditetapkan menggunakan format program tertentu seperti .doc dari Microsoft Word atau .odt (OpenDocument Text) dari OpenOffice.org 2.0 yang gratis, atau XML (eXtensible Markup Language) untuk memudahkan petukaran data elektronik.

Pertukaran / pengiriman data
Kerahasiaan data adalah isu penting disini, dimana pengiriman informasi menjadi sangat rawan dengan alam internet yang terbuka. Untuk mengatasinya dapat dengan menerapkan area network untuk lingkup tertentu atau menggunakan jalur internet terenkripsi.

Analisis data
Perubahan tren kejadian kesehatan tertentu dengan bantuan metode statistik serta dukungan software database dan pemetaan (misalnya EpiInfo) akan membantu analisis dan penyajian data nantinya.

Akses dan diseminasi data
Selain bermanfaat bagi pengambil kebijakan, hasil analisis data disimpan dalam database masing-masing level pemerintahan dan dapat digunakan untuk promosi kesehatan masyarakat melalui jalur internet maupun sms interaktif sesuai kebutuhan masyarakat.

Untuk memudahkan pengolahan data dari berbagai sumber dan berbagai macam jenis data menjadi informasi yang berguna bagi kebijakan kesehatan selanjutnya, diperlukan suatu standar tertentu mengenai format laporan, definisi kasus, software pengolah data serta jalur internet yang aman.

4 Balasan ke Health Informatics – Surveilans dan Standar Data

  1. eptia mengatakan:

    Asik ya, kalau di RS2 datanya sudah online, jadi tiap pasien periksa, dokter tdk usah mennunggu rekap medik diambil dulu, jd bisa efisiensi waktu. Tinggal liat di komputer masing2 instalasi. Saya pernah msuk UGD, tp krn sdh terlalu mlm bag penyimpanan arsip sdh tutup. Jd saya mesti cerita panjang lebar ke dokter yg periksa mengenai riwayat kesehatan saya…😦 Nah, kl pasiennya tdk ingat dan tdk aware kan repot.. Bisa menghambat proses diagnosa. Lebih bagus lg kalau pelayanan kesehatan nasional mengakomodasi suatu system tsb… doakan saja terus deh🙂

  2. Dani Iswara mengatakan:

    di bbrp negara maju..dokter tinggal pake PDA dg koneksi wireless untuk ngecek kondisi pasien bangsal..usul nih..mb epti jg bs catet RM diri sendiri (alergi, peny. keturunan, tensi biasanya, dll) di hp, PDA atau notes dkk-nya, tinggal dikasi ke dokternya (suruh baca sendiri aja..)..pokoknya dimanfaatkan maksimal sarana yg ada..🙂

  3. eptia mengatakan:

    ahaha.. kok bisa ya aku ga kepikiran kesitu. Thks ya, siap dilaksanakan🙂 Soalnya aku alergi obat2an byk banget… btw, dokter yg pake PDA disini jg udh banyak ya, tapi saya liat blm byk yg memanfaatkan fasilitas2nya dg optimal. Masih sebatas untuk kepentingan sendiri, blom sampai untuk kirim2an data pasien dsb.

  4. Dani Iswara mengatakan:

    Yap..bole dicoba..yg paperless bs pake infrared, bluetooth..data bs disimpen dlm bentuk memo, atau saved sms utk pribadi dan se-waktu2 konsul via sms kan cepet..terutama dg dokter keluarga masing-2..
    Pemanfaatan PDA-nya memang blm ada data lengkap, tapi perlahan bs dikembangkan..

%d blogger menyukai ini: