Health Informatics – Persiapan menjelajah Internet

30 September 2006

Mas Harmi Prasetyo telah memuat tulisan cara efektif menggunakan search engine di situsnya.

Saya menambahkan sedikit berdasar pengalaman pribadi di kampus:

Lokasi akses

  • Akses Internet dapat memanfaatkan WiFi di kelas, prodi, gedung pasca, perpustakaan fk, gedung radiopoetro (beberapa akses poin membutuhkan registrasi, hubungi admin anda). LAN dapat digunakan di lab komputer. Beberapa fakultas lain di UGM juga menyediakan akses WiFi dan LAN tersendiri, lihat WiFi UGM disini…
  • Di Yogyakarta, terutama di sekitar kampus UGM juga terdapat beberapa warnet (Windows dan GNU/Linux) yang buka 24 jam dengan kisaran harga rata-rata Rp 3.000-5.000-an/jam (cek warnet di Yogyakarta…)
  • Beberapa kafe dan hotel juga menyediakan akses WiFi gratis (tapi minumnya bayar lho…atau lapor ke front office untuk memperoleh user name dan password)
  • Akses di rumah dapat mengunakan telkomnet. Lainnya dapat memanfaatkan CDMA dan GPRS (mahal).


Persiapan sistem operasi

Pengguna Windows dan MacIntosh mungkin tidak menemui masalah yang berarti dengan penyetelan WiFi dan telkomnet. Berbeda dengan pengguna GNU/Linux yang harus melakukan konfigurasi tertentu.


Persiapan piranti lunak

  • Dapat menggunakan browser Firefox (karena keamanannya), Opera (karena kecepatannya), atau Internet Explorer (karena kebiasaan; coba tambahkan fasilitas Google toolbar untuk lebih nyaman). Lakukan penyetelan browser sesuai kebutuhan (misalnya di Firefox terdapat pilihan lokasi penyimpanan file, tingkat keamanan, tambahan plugin, extension, dll), tapi jangan sampai memberatkan browser
  • Untuk pengguna Windows, usahakan update antivirus secara teratur dan backup data untuk berjaga-jaga
  • Pengguna Windows, manfaatkan download manager yang dapat terintegrasi ke browser
  • Gunakan PDF Creator bagi pengguna Windows untuk menyimpan berkas hasil pencarian ke dalam format PDF. Pengguna Konqueror di GNU/Linux dapat langsung menyimpan ke format PDF. Pengguna Firefox di GNU/Linux memerlukan penyetelan tersendiri (manfaatkan kprinter)
  • Manfaatkan fasilitas help yang tersedia pada piranti lunak masing-masing.


Persiapan kata kunci

Kumpulkan kata kunci yang mungkin dapat digunakan untuk menemukan berkas dimaksud. – Setiap situs biasanya memiliki aturan tersendiri dalam pengetikan kata pencarian (coba manfaatkan search tips yang ada). Untuk Google coba cek disini…


Persiapan alamat situs

  • Catat alamat situs yang akan dituju
  • Manfaatkan fasilitas bookmarks pada browser
  • Beberapa situs jurnal langganan kampus hanya dapat diakses di lingkungan kampus.


Persiapan media penyimpanan

  • Sebaiknya simpan berkas yang ditemukan pada folder tertentu atau berdasar topik tertentu (atau untuk menghemat waktu, penyimpanan per topik dapat dilakukan saat offline)
  • Yakinkan flashdisk masih cukup menampung berkas (hati-hati virus!)


Selamat menjelajah dunia…jangan lupa bagi-bagi informasinya ya…

Beberapa artikel lainnya:
Tentang “pencarian” dari Wikipedia
Beberapa lokasi WiFi di Indonesia
Gratisan di Windows

Iklan

Health Informatics – Sistem Informasi Manajemen Kesehatan

30 September 2006


Rendahnya kualitas ketersediaan data, informasi dan pengetahuan sektor kesehatan suatu negara, mendesak dibentuknya suatu infrastruktur informasi kesehatan nasional. Konektivitas dan manajemen pengetahuan menjadi penting untuk meningkatkan status kesehatan dan sistem kesehatan yang lebih baik.

Meningkatkan status kesehatan di suatu negara tentunya membutuhkan kerjasama bidang-bidang manajemen kesehatan personal (individu), pelayanan kesehatan (praktisi klinis), kesehatan masyarakat, dan penelitian yang terkait kesehatan.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (information and communication technologies/ICT) di beberapa negara maju memberikan pengalaman positif terhadap kesehatan.

Dengan TI, dunia kesehatan mampu:

  • memberikan informasi dan pelatihan tingkat lanjut bagi dunia pendidikan (situs tenaga kerja kesehatan, pembelajaran jarak jauh),
  • meningkatkan pelayanan kesehatan dan manajemen bencana (pemetaan bencana dan kerusakan infrastrukturnya, pemanfaatan PDA [Personal Digital Assistant] di klinik),
  • meningkatkan pelayanan kesehatan publik melalui transparansi dan efisiensi (situs informasi kesehatan, konsultasi via email, tender kesehatan)

Gambaran perkembangan sistem informasi kesehatan di negara berkembang tersebut mengalami beberapa masalah mendasar:

  • infrastruktur fisik yang belum adekuat
  • akses mayoritas populasi terhadap teknologi kesehatan masih kurang
  • kurangnya kemampuan penggunaan teknologi kesehatan

Memberikan pendidikan bagi profesional kesehatan dalam penggunaan teknologi kesehatan dan menyediakan akses serta konektivitasnya diharapkan akan mampu mengurangi kesenjangan teknologi bidang kesehatan.

Pengembangan teknologi kesehatan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sebagai sebuah investasi, diperlukan perencanaan yang matang. Dengan adanya pusat pendidikan informatika kesehatan/kedokteran/sistem informasi manajemen kesehatan (UI, Undip, UGM), suatu upaya strategis untuk menciptakan infrastruktur informasi kesehatan nasional sedang dijalani.

Pengembangan sistem informasi instansi kesehatan, sistem informasi rumah sakit, sistem informasi klinis, sistem informasi farmasi, sistem informasi pendidikan kesehatan, dan sejenisnya diharapkan akan lebih terpacu dan mampu menghubungkan keinginan serta kebutuhan para pengguna maupun pengembang. Yang paling mengetahui masalah di lapangan seyogyanya adalah pelaku kesehatan sendiri, sehingga jika para pengembang mau dan mampu mempelajari sistem kesehatan kita, mengapa tidak orang kesehatan sendiri yang mencoba memahami teknologinya.

Selamat bergabung di sistem informasi manajemen kesehatan.


Health Informatics – GNU/Linux dalam Kedokteran

1 September 2006

GNU/Linux makin banyak digunakan di berbagai bidang termasuk kedokteran.
Beberapa aplikasi GNU/Linux dalam kedokteran yang dapat saya temui di Internet diantaranya:

Mari lihat-lihat dulu..


CompTech – Kebijakan Open Source FK UGM

1 September 2006

Pada diskusi panel Kebijakan dan Prospek Open Source di lingkungan FK UGM tanggal 14 Agustus 2006 lalu, hadir sebagai pembicara: Engkos Koswara dan Kemal dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi, Bambang Prastowo (Pusat Pelayanan Teknologi Informasi dan Komunikasi [PPTIK] UGM), Jazi Eko Istiyanto (FMIPA UGM), Iwan Dwiprahasto (FK UGM), Hari Kusnanto (Sistem Informasi Manajemen Kesehatan Masyarakat, Ilmu Kesehatan Masyarakat [IKM] FK UGM), dan Nova Rusydi Setiawan (administrator jaringan FK UGM) diikuti oleh beberapa rekan mahasiswa dan pemerhati open source. Diskusi dimoderatori oleh Pak Anis Fuad.

Pak Engkos dan Pak Kemal menekankan pada isu global pengembangan Open Source Software (OSS), posisi Indonesia sebagai konsumen dan pembajak nomor wahid (Priority Watch List) piranti lunak, kebijakan pemerintah tentang Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI), penggunaan piranti lunak legal di pemerintahan, penghematan devisa, dan deklarasi Indonesia, Go Open Source (IGOS). Arsip program ini dapat dilihat di arsip IGOS.
Dalam sasarannya untuk meningkatkan SDM bidang teknologi informasi, maka instansi pendidikan harus dilibatkan.

Campus Agreement (CA) Microsoft dan Universitas Gadjah Mada (UGM) akan berakhir Agustus 2006 (sejak 1 Agustus 2003) ini. Untuk menghilangkan pembajakan piranti lunak di UGM, diluncurkanlah misi UGM Go Open Source (UGOS). Pak Bambang Prastowo menyampaikan untuk menghormati HAKI, kebebasan akademik, dan menciptakan prekondisi pengenalan produk open source, akan dilakukan penerapan sistem operasi dan aplikasi open source secara bertahap dan berkelanjutan pada komputer dan laptop yang tidak memiliki lisensi sistem operasi Microsoft. PPTIK akan membantu melalui pelatihan dan konsultasi.

Pak Jazi menekankan pada aplikasi office dan Internet dengan open source beserta contoh aplikasi, keunggulan dan kelemahannya.

Bagaimana dengan Fakultas Kedokteran UGM? Disampaikan bahwa beberapa PC di ruang tutorial FK telah telah menggunakan GNU/Linux. Belakangan, PC untuk akses Internet di perpustakaan FK telah menggunakan GNU/Linux.

Pak Dwiprahasto menegaskan UGM sebagai Research University dengan program internasionalnya tentu tidak dapat lepas dari dukungan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Terdapat keunggulan serta kelemahan masing-masing Windows dan GNU/Linux dalam dukungan akademik. Migrasi Windows ke GNU/Linux sebaiknya dipertimbangkan dengan baik sehingga nantinya mampu bersaing secara global, bukan hanya karena gratis.

Pak Hari Kusnanto memberikan contoh-contoh aplikasi open source yang dapat digunakan untuk kedokteran dan kesehatan masyarakat, serta bioinformatik. Aplikasi tersebut antara lain: OSCAR (Open Source Clinical Application Resources) dari Kanada, openEMR, Open eMed, OpenGALEN, open standard dari HL7, dan GeoDa untuk pemetaan penyakit serta risikonya menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG).

Mas Nova menyampaikan manajemen jaringan Internet (kabel dan nirkabel/WiFi) di FK UGM yang telah menggunakan GNU/Linux.

Jadi (pesan moralnya adalah…) migrasi ke piranti lunak open source adalah sebuah pilihan, yang penting dunia pendidikan dapat memberi contoh penggunaan piranti lunak legal dan menghargai HAKI tanpa mengurangi kebebasan dan kreativitas.

Perkembangan GNU/Linux di FK UGM dapat dilihat disini..

Gratisan di Windows dan tulisan GNU/Linux sebelumnya dapat dilihat disini..