Health Informatics – Implementasi sistem informasi klinik menurut kebutuhan dokter

Banyak aplikasi sistem informasi klinik dan computerized physician order entry (CPOE) yang telah diimplementasikan dan terintegrasi dengan sistem pembayaran maupun administrasi sehingga mampu menunjang sistem bisnis klinik/rumah sakit sesuai yang diharapkan. Beberapa diantaranya mungkin masih menemui kegagalan dan perlu dilakukan evaluasi ulang.

Kunci sukses implementasi sistem informasi klinik diantaranya adalah memahami kebutuhan staf klinik dan mengerti strategi pengembangan sehingga mampu menjembatani adopsi dan pemanfaatan suatu teknologi baru (Hobbs).

Penerapan komputerisasi klinik mungkin mudah bagi dokter yang berusia lebih muda. Tetapi bagaimana dengan para dokter senior yang telah terbiasa dan nyaman dengan sistem berbasis kertas. Hal ini tentu memerlukan perhatian tersendiri.

Dengan harapan mengurangi kesalahan medis, menekan biaya, dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, beberapa pusat pelayanan kesehatan di Amerika Serikat mulai mengimplementasikan rekam medis elektronik.

Pengalaman Cedars-Sinai Medical Center, LA, California (Shabot, 2004) memberikan 10 pelajaran penting:

1. Kecepatan adalah segalanya
Tidak peduli indahnya desain, fitur, saran, atau sistem peringatan (alerts), yang lebih penting adalah kecepatan (waktu respon). Sehingga masih banyak sistem yang berjalan dengan DOS (berbasis teks).

2. Para dokter mengabaikan sistem peringatan
Padahal sistem peringatan dapat mengurangi medical error, tetapi karena kebutuhan akan kecepatan akses lebih diutamakan, maka sistem peringatan (misalnya peringatan akan adanya interaksi obat) cenderung diabaikan oleh dokter. Sistem peringatan ini masih digunakan oleh kalangan farmasi.

3. Memberikan informasi saat dibutuhkan
Dengan didukung sistem peringatan, informasi benar-benar disampaikan sesuai kebutuhan pengguna berupa pengingat singkat (reminder) tapi tetap menyertakan tautan (link) untuk informasi yang lebih lengkap.

4. Sesuai dengan alur kerja pengguna
Bukan hanya komputerisasi, tetapi mampu lebih dari itu. Para pengembang sebaiknya menyadari, kadang komputerisasi juga memperlambat proses. Jadi, sesuaikan dengan proses dan alur kerja yang ada. Sistem berbasis web Cedars-Sinai menampilkan data pasien terbaru dengan tautan ke laporan konsultasi, hasil radiologi, dan analisis gas rutin. Informasi dapat dioptimalisasi untuk menghemat waktu akses.

5. Respek terhadap otonomi dokter
Di tengah kesibukannya sehari-hari, para dokter dihadapkan pada suatu sistem informasi klinik yang baru, dan kadang bertentangan dengan otonomi praktiknya. Hal ini sering terjadi pada para dokter senior yang berusia lanjut. Otonomi ini berhubungan dengan adanya sistem peringatan komputer jika terjadi interaksi obat. Hal ini juga dianggap menghambat proses dan membuang waktu. Peresepan manual berbasis kertas dianggap lebih baik. Tetapi semuanya harus dilakukan demi kebaikan pasien dan dokter.

6. Pengawasan implementasi secara nyata dan respon dilakukan dengan segera
Tantangan terberat adalah manajemen perubahan pada manusianya. Implementasi sistem informasi klinik yang baru membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Biaya implementasi/pelatihan kadang lebih mahal dari harga perangkat keras dan lunak itu sendiri. Implementasi sebaiknya dituntaskan pada suatu unit, sambil mencari masukan untuk membentuk sistem baru menjadi lebih baik.

7. Hati-hati terhadap konsekuensi yang tidak diharapkan
Prosedural medikasi yang ditanamkan pada suatu sistem kadang terlalu detil sehingga dapat melelahkan (terutama) para perawat. Konsekuensi ini baiknya disesuaikan dengan prosedur manual yang ada dan dibicarakan dengan tim dokter.

8. Waspada akan kekurangan proses jangka panjang yang belum teratasi
Tidak semuanya dapat tergantikan oeh sistem. Saat proses registrasi memerlukan waktu tertentu sementara pasien harus segera diambil tindakan (masalah proses), dokter akan memesan perlengkapan medikasi dengan menggunakan nama sementara, tentu saja dengan tulisan tangan. Proses ini tidak tergantikan oleh komputer.

9. Jangan mengacaukan “magic nursing glue
Sebelum komputerisasi, para perawat sering membantu tugas dokter dengan melengkapi status pasien yang belum lengkap, sehingga memudahkan pasien untuk pindah tahap perawatan selanjutnya. Dengan komputerisasi, proses ini menjadi terlalu detil dan spesifik. Sistem informasi klinik dapat mengganggu peran perawat.

10. Kecepatan adalah segalanya
Kembali, kecepatan adalah segalanya bagi pengguna klinik di tengah kesibukan masing-masing.

Kesuksesan implementasi sistem informasi klinik yang baru ditentukan oleh pemimpin yang baik dan pengikut yang baik pula.

5 Balasan ke Health Informatics – Implementasi sistem informasi klinik menurut kebutuhan dokter

  1. arni mengatakan:

    mas q mo nanya, untuk penerapan POMR di indonesia inikan masih sulit.
    yang pengen q tanyain, bagaimana implementasi dari POMR elektronik misalnya POMR secara elektronik ada di indonesia. bls ke email q ya mas, thx

  2. hastadi mengatakan:

    Wah, artikel ini benar2 membuat saya merasa benar. Selama ini saya dan istri saja yang berpendapat seperti itu. Ternyata…

    » hastadi:
    mohon pencerahannya kalo ada salah pak ya..
    ato ngeblog sekalian pak..biar saya bs belajar banyak dari pak hastadi..🙂

  3. didy mengatakan:

    hmm sip

  4. didy mengatakan:

    ass,dok ak lg nyari literatur sistem teknologi informasi untuk layanan kesehatan seberapa jauh mendukung penigkatan kualita layanan di lihat dari dimensi tangible(tampilan),responsive(kecepatan),dan reliable(kehandalan),mohon bantuan….

  5. I Made Arimbawa mengatakan:

    Sore Dok, salam kenal aja, saya made, kebetulan kerja di konsultan rumah sakit untuk pengembangan SIM-RS.

%d blogger menyukai ini: