Pelayanan Kesehatan via Internet

Penggunaan Internet sebagai salah satu cara untuk melakukan intervensi/pelayanan kesehatan sudah semakin berkembang. Sebagai media yang relatif baru (bagi sebagian penggunanya), Internet dapat dimanfaatkan untuk:

  • mencari informasi kesehatan (istilah penyakit, alternatif pengobatan, lokasi praktik, pendaftaran klinik, jurnal, dll)
  • konsultasi kesehatan terkoneksi dan terputus (online dan offline; misalnya via bilik bicara (chat room + kamera video), email, mail list, forum, dll)
  • kelompok suportif penyakit tertentu

(tulisan ini menampilkan beberapa grafik dari Google Trends sebagai penunjang, silakan matikan tampilan gambar jika tidak berkenan)

  • biaya relatif murah (tidak terbatas waktu, tempat, dan mobilitas seperti pelayanan kesehatan konvensional [terutama yang berkaitan dengan promosi kesehatan])
  • nyaman bagi pengguna (anonimitas, menghindari stigma dan malu, ketersediaan informasi saat dibutuhkan)

Tetapi semuanya tidak dapat menggantikan kontak dokter dan pasien secara langsung atau ‘fis to fis’ by TukulTM (face to face contact).

Sebagaimana disampaikan dalam JMIR (Journal of Medical Internet Research) yang berjudul Why Are Health Care Interventions Delivered Over the Internet? A Systematic Review of the Published Literature, selain keunikan teknologi Internet seperti di atas, pelayanan kesehatan via Internet juga didukung oleh:

  • kurangnya informasi yang diterima pasien dari profesional kesehatan (pasien terlalu ramai, kurang komunikatif)
  • keasyikan baru dari Internet
  • atraktifnya Internet bagi generasi muda (blog, chat, forum, permainan terkoneksi)
  • komunikasi terkoneksi sebagai salah satu bentuk komunikasi yang digunakan generasi muda

Beberapa blog di WP.com juga saya temukan menggunakan tag kesehatan.

Peluang pemberian pelayanan kesehatan melalui Internet masih terbuka lebar.

Apakah topik kesehatan menjadi salah satu isu menarik bagi pengguna Internet?
Informasi kesehatan apa yang paling dibutuhkan?
Pelayanan kesehatan seperti apa yang paling diharapkan?

Saya mengambil contoh hasil pencarian topik kesehatan melalui Google (Google trends).

Dengan kata kunci ‘aids’, menghasilkan gambaran seperti di bawah ini:

tren pencarian informasi AIDS di Google

AIDS merupakan masalah internasional, kata kunci yang umum (tidak khusus Bahasa Indonesia atau Inggris).

Dengan kata kunci ‘flu burung’, menghasilkan gambaran seperti di bawah ini:

pencarian flu burung

Kasus flu burung yang makin merajalela ini makin menarik minat para health seekers berbahasa Indonesia.

Dengan kata kunci ‘demam berdarah’, menghasilkan gambaran seperti di bawah ini:

pencarian dbd

Apakah Google yang bermasalah, atau para pencari yang bosan ya..😀

Perhatian: fasilitas Google Trends ini masih dalam tahap pengembangan.

Tulisan terkait:

Konsultasi Email Pasien-Dokter

Review Blog Dokter

» Share: add to del.icio.us | add to furl | Digg it | add to ma.gnolia | Stumble It! | add to simpy

Silakan beri komentar, email tidak dipublikasikan, kode (XHTML) berikut dapat digunakan:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

Dapatkan foto/ikon avatar dari Gravatar.

Dani

33 Balasan ke Pelayanan Kesehatan via Internet

  1. helgeduelbek mengatakan:

    Wah saya lebih tertarik untuk info google trend-nya sebaba saya belum pernah pakai, makasih infonya…

  2. Dani Iswara mengatakan:

    » helgeduelbek:
    silakan Pak Guru Urip, fitur ini dah cukup lama ada, beberapa blogger lain pun dah pernah make..😀

  3. cakmoki mengatakan:

    Sepertinya yang spesifik perlu dikenalkan dulu, atau mungkin tergantung pangsa.
    Contoh: DBD, kebanyakan penderita ngga kober nyari info, mungkin sudah ngerti atau kurang menarik minat atau sebab lain. Beda kalo kita pakai kata kunci kanker, atau yang lebih umum misalnya kesehatan. Trends bagus.
    Apa berhubungan dengan kelas ? Yang jelas pencari info kan harus punya komputer dan terkoneksi internet.
    Sudah coba “masakan” ? hehehe, trends nya signifikan. Apalagi pe-o-er-en-o samarinda no.4.
    Buka halaman konsultasi aja Mas Dani, asalkan bisa dibuka seminggu 3 kali mungkin bisa sebagai media tanya jawab. Walau tidak bisa menggantikan dokter, menurut saya tetap ada manfaatnya. Gimana ?

  4. simkesugm06 mengatakan:

    setuju cak moki. Kalau informasi dari keseharian sudah banyak, mereka tidak akan menggunakan internet. Kecuali bagi mereka yang sedang diminta membuat paper. Grafik flu burung langsung mencuat persis setelah ada kasus kematian Iwan di Tangerang, Juli 2005. Beberapa puncak yang muncul pasti ada triggernya. Jika term “flu burung” dibandingkan dengan “bird flu” akan kelihatan jika gegernya dunia mengikuti kegegeran tentang flu burung di Indonesia. Jangan-jangan memang benar bahwa pusat penyebaran pandemi flu burung memang di Indonesia….. Itu kesimpulan yang mengada-ada ya…. Yang lebih pas mungkin “kebutuhan informasi kesehatan masyarakat dapat diprediksi menggunakan google”. Tambah satu kredit lagi manfaat google bagi dunia kesehatan… Bravo Dan. (4n15)

  5. Dani Iswara mengatakan:

    » cakmoki:
    yg berhubungan dgn s3x (naluri purba manusia) pasti masi merajai..😀
    tinggal liat2 kota dgn akses Internet gampang ato malah krn gak ada ‘hiburan’ laen di kota itu😀
    penyakit2 kronis biasanya masi banyak dicari informasinya..
    konsultasi via mail list, chat, forum spt Pak Erik, Cock Wirawan masih aktif dan lumayan berkembang penggunanya (saya bantu pasif aja..sori Cock)😀
    kl tdk salah pernah dibuat analisis ttg penyakit yg banyak dikonsulkan..

    » Pak Anis (via simkesugm06):
    jd ada pengaruh musiman jg..
    misalnya berkas log Internet di FK UGM diobok-obok, hasilnya apa ya..😀

  6. Evy mengatakan:

    Dik Dani,
    Baru2 ini aku ditanya dosenku, apakah aku setuju dengan health aids program, dimana mereka para health aids adalah masyarakat setempat yg di kasih training beberapa bulan lalu mereka di tempatkan di rural, mengobati pasein dengan bimbingan dr University of Washington. Jadi setiap ada kasus mereka bisa berkonsultasi jarak jauh. Wah aku heran US yg canggih ini kok ya masih ada daerah2 yg ga terjangkau dokter ya, masih mendingan Indonesia punya puskesmas di tiap kecamatan.

    Akhrinya ku jawab ga setuju untuk treatment but preventive it’s OK… alasannya it’s not only about the treatment but it’s about the whole body it’s self…aku masih penganut kudu “inspeksi” pasien soalnya…dan lagi suatu tindakan kan ada efek sampingnya, apakah seorang trainer health aids bisa mengatasi keadaan emergency seperti syock anaphylactic misalnya…jadi aku malah nggedabrusin program puskesmas, posyandu di Indonesia…hidup Indonesia….at least our doctors is more loyal than Americans doctors… (namanya juga negara kapitalis…)

  7. senyumsehat mengatakan:

    Oh ya dik, konsul lagi
    aku bikin page kok error melulu ya, ga mau keluar tuh…maksudnya tulisan mau ada di sidebar aja ga usah di tampilin di halaman muka bisa ga sih…? Klo yg perlu aja baru buka?

  8. senyumsehat mengatakan:

    Thanks sebelumnya sorry ngerepotin….ya..

  9. anis mengatakan:

    senyumsehat;
    jika di daerah perkotaan, yang ada spesialis, ada dokter, perawat praktek seperti dokter (kuratif) saya nggak setuju. Tapi di daerah terpencil, yang boro-boro dokter spesialis, dokter PTT dan bidan desanya kabur mulu…saya setuju nglatih dukun2 agar jadi pengawas minum obat pasien tuberkulosis, tindakan steril menolong persalinan, selain tentu saja diimbangin dengan meningkatkan demand masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang lebih baik (mau ngomong kedokteran barat versus kedokteran alternatif susah banget….)
    Tetapi, yang terjadi, daerah kekurangan dokter, atau mbayar dokternya mahal, atau dokternya jauh dan transportasinya mahal, demand masyarakat terhadap kedokteran modern sudah tumbuh, ada perawat setempat yg mencoba memenuhi kebutuhan masyarakat…malah ditangkapi polisi.
    jadi bingung sendiri antara regulasi mutu pelayanan dengan meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan.
    tentang teknologi telemedicine…yang belum berkembang (dan tidak menarik bagi pihak yang punya duit) adalah ICT4D alias ICT for development…..mimpi teknologi bisa murah dan bermanfaat…

  10. Dani Iswara mengatakan:

    » Evy (senyumsehat):

    page-nya dah bisa sendiri tho Bu..😀

    saya setuju dgn Pak Anis, pernah baca di Nias, ada mantri yg dah sepuh, seharusnya pensiun tp tenaganya masi dibutuhkan dan bertugas layaknya dokter, krn dokternya gak ada yg kerasan dgn berbagai alasan yg ‘sdh kita ketahui’ bersama..

    akhirnya ya gemana caranya mendekatkan akses pelayanan kesehatan dengan sumber daya manusia yg ada..selain kerja sama dgn RS pendidikan, ya pelatihan2 spt desa siaga, dukun bersalin terlatih, dll..

    moga2 putra2 daerah yg disekolahkan dokter/spesialis oleh daerahnya masing2 akan benar2 kembali ke daerah asalnya dan membangun kesehatan di tanah kelahirannya..:D

  11. senyumsehat mengatakan:

    Dear Pak Anis dan dik Dani,

    Wah thanks neeh pak dosennya ikutan ngejawab saya…(wee dik Dani punya backing too…mbok dikenalin, diajak ikutan WP sisan… makasih blog ku udah di sembur..).
    Kalau memang setuju dengan program spt itu mungkin harus di kasih perangkatnya pak, misalnya dengan sertifikat untuk safety, kasian dong klo udah berbakti ditangkep polisi, mending praktek paranormal aja kali…tinggal weessswee, tiup2 dikit, pasang plang di mana2…aman2 aja klo ga sembuh bilangnya belum jodoh…(walah jd ngelantur)

    Aku sebenrnya juga bukan totally ga setuju, preventif, emergency, kuratif selama under supervision, it’s OK. Untuk tindakan kasus2 tertentu (pikiran saya bedah melulu sih ya..) aku pikir tetep harus ada flying doctors gitu entah sebulan sekali…, ga sekedar di lepas begitu saja… masalahnya di US khan state yg cover health insurance untuk native, mereka udah keluarin uang banyak aku pikir mereka kudu punya hak lebih dong, untuk dapat pelayanan kesehatan yg adekuat…ya itu sekedar saranku…ke mereka … ya skdr crita juga klo di Indo aja dokternya mau mblusuk2 dulu jamanku, ga tahu sekarang…?

    Anyway thanks banget sharingnya
    Evy

  12. politea mengatakan:

    bro, gmn kalau bro buka forum konsultasi kehetan, ditambahin aja di salah satu page/halaman, sebagai forum konsultasi.ehhehe
    kayak sekarang neh, aku mau konsultasi tapi gak tau dimana tempatnya, gini bro, biasa kalo abis bangun pagi perut saya selalu maul-mual dan ditenggorokan saya ada dahak (maaf agak jorok), tapi saya tak batuk. juga tak flu.apakah ini ada pengaruhnya dengan AC, atau bagaimana bro? terus pencegahannya gmn dan obatnya apa?? mohon dibantu, biar blogger indoneisa terbebas dari penyakit… 🙂

  13. politea mengatakan:

    bro, saya minta maaf, tegur sapa bro yg diblog saya pada artikel kemiskinan desa, nggak sengaja terhapus (salah kelik bro)mohon maaf sekali lg bro!!

  14. Dani Iswara mengatakan:

    » politea:
    utk forum konsultasi kesehatan, agar tdk tumpang tindih, [maaf] saya sarankan bergabung dg konsultasi kesehatan online misalnya milis dokter_umum di menu samping blog ini atau ke tanya jawab dgn dr. Hatmoko online, bbrp rekan dokter akan ikut membantu jg di milis dan forum tersebut..

    semoga terbantu..😀

  15. mrtajib mengatakan:

    informasi menarik, apalagi saya ini sering protest dokter……

    sedikit cerita, ketika bapak saya sakit dan mondok di rumah sakit…. karena deagnosa dokter bilang A…..tetapi aya kurang yakin bahwa itu penyakit A…langsung saja saya cari info di internet…dan saya cari informasi tentang penyakit A….

    dan hslnya,

    si dokter…cengar-cengir saja….

  16. Dani Iswara mengatakan:

    » mrtajib:

    • iya kang..akuurr..maapken rekan2 kami..😦
    • emang 2nd opinion, 3rd, 4th, dst-nya penting jika masih meragukan..apalagi kl informasi kesehatannya selalu tersedia atau akses Internetnya tersedia dan murah..

    • kl dokter gak memperbaharui diri..gak terpapar Internet, kalah dari kang tajib dong..😀

  17. Titah mengatakan:

    saya bukan dokter, boleh kan ikut berbagi masalah kesehatan? sebetulnya bukan berbagi, saya hanya sedang (mulai) belajar tentang kanker, supaya belajarnya lebih serius saya coba sharing-kan hasil belajar saya di http://rumahkanker.com sekalian belajar joomla.
    hasil belajar saya masih sedikit sekali, masih “nol kecil”, saya sangat menunggu mas dani dan para dokter yang praktek di internet untuk membantu; baik dari segi kanker-nya maupun dari segi joomla-nya. terima kasih banyak sebelumnya, ya🙂

  18. Dani Iswara mengatakan:

    » Titah:
    mmm, ini Ibu Titah Rahayu bukan ya..(yg mantan wartawan, di surabaya, jaya baya, penerbit, pengusaha, anggota milis dokter_umum??)
    makasi dah mampir..😀
    situsnya apik pake joomla..
    mungkin perlu ditambahkan semacam disclaimer dan atau taut sumber tulisan..?

  19. Titah mengatakan:

    wedew…. malunya saya! koq mas dani tau sebanyak itu tentang saya sih? ya… betul semua, kecuali yang penerbit/pengusaha –aahh… itu sih keisengan saya waktu pertama kali kenal internet–

    jadi anggota milis dokter umum sangat saya nikmati, tapi beberapa bulan terakhir nonaktif karena sibuk mengurus ibu mertua sakit kanker kolorektal yang sudah metastase. ibu kandung saya berpulang karena kanker hati 22 tahun yang lalu, dan saya sendiri sudah (minimal, sejak pertama kali diketahui) 17 tahun menderita hepatitis B kronis. dari situasi itu saya tergerak untuk tau lebih banyak tentang kanker.

    tentang joomla, ya nantinya ada disclaimer juga, tapi sementara ini upload dan bikin menu saja masih suka error, masih dasar buanget belajarnya mas😀

    artikel sejauh ini saya bikin sendiri dari berbagai sumber, kalau mas dani dan rekan2 dokter lain mau nyumbang tulisan alhamdulillah banget, nanti saya buatkan menu khusus “artikel dokter” dan sudah pasti saya cantumkan link-nya donk. ayo, ayo, siapa yang mulai dulu? 🙂

  20. Dani Iswara mengatakan:

    maaf, turut berduka Bu,😦

    terima kasih Bu Titah sdh berbagi di dunia maya ini, di blogspot, wordpress, forum, dll

    skrg masi editor ngga bu..?

    promosinya akan kami teruskan ke rekan2 yg berminat..

  21. Titah mengatakan:

    terima kasih mas dani, terima kasih. kalau ada rekan dokter yang berkenan nyumbang tulisan tentang kanker, silakan kirim ke titahrahayu[at]gmail.com atau sahabat[at]rumahkanker.com.

    saya juga berencana nantinya ada konsultasi kanker, tapi belum tau gimana formatnya (dan juga gimana caranya bikin), lebih-lebih belum tau siapa yang berkenan melayani konsultasi itu, soalnya saya enggak kuat bayar😀

    tentang editor, masih kok, di majalah jaya baya. koq tau sih? hehe…

  22. Dani Iswara mengatakan:

    » Titah Rahayu:
    diaktifin modul forum yg di joomla itu aja Bu..joomla dah lmyn lengkap kok..

    promo di blog..

    moderatornya (kl bisa) dokter yg bener terlibat di penanganan kanker..
    di rs dr. soetomo banyak kenalan kan Bu..😀

    nanti kami2 bantu..gratis..😀

  23. Titah mengatakan:

    ide bagus. terima kasih mas dani. terima kasih untuk (janji🙂 ) bantuannya juga….

    » Bu Titah:
    sama-sama blajar ya Bu..😀

  24. […] komentar Ibu Titah Rahayu di Pelayanan Kesehatan via Internet: Ada tawaran menarik untuk mengisi artikel di Rumah Kanker milik Ibu Titah Rahayu. Bantuan lainnya […]

  25. tedytirta mengatakan:

    Salam Kenal, dulu tugas akhir saya sewaktu kuliah adalah membuat sistem terintegrasi antara sistem pendaftaran pasien, sistem pencatatan resep, dan sistem administrasi obat-obatan di Puskesmas. Masih skala intranet sih, tapi tidak menutup kemungkinan bisa dikembangkan melalui internet. Buku skripsi tentang sistem tersebut saya upload di http://tedytirta.wordpress.com/2007/03/29/buku-pertama-yang-saya-tulis-dengan-latex/
    Barangkali ada para dokter yang berminat mengembangkannya🙂
    he..he..he…gak nyambung ya komentarnya (kedengerannya narsis amat ya😀 ).

    » tedytirta:
    salam kenal juga..terima kasih mau berbagi😀

  26. SOAL 1 « mY rOOm mengatakan:

    […] Pelayanan Kesehatan via Internet […]

  27. Dr. Soekartawi mengatakan:

    Jakarta, 12 Mei 2007

    Kepada Yth
    Pemerhati ICT4D/Pemerhati Pendidikan

    MOHON UNDANGAN INI JUGA DISAMPAIKAN PADA PIMPINAN ATAU SEJAWAT YANG LAIN

    Memberitahukan dengan hormat bahwa DEPDIKNAS akan menyelenggarakan Simposium Nasional tentang Hasil-Hasil Penelitian/Pemikiran-Inovatif Pendidikan di Jakarta, Tanggal 25-26 Juli 2007. Simposium akan dibuka Mendiknas dan para Dirjen/Sesjen/Irjen diundang sebagai keynote speakers.

    Saya disarankan mengundang Bapak/Ibu untuk berpartisipasi dalam Simposium Nasional tsb. Syukur kalau Bapak/Ibu dapat mengirimkan makalah soal ICT4D dan Kependidikan. Karena jumlah peserta DIBATASI, maka Panitia memberikan kesempatan kepada pendaftar tercepat. Penjelasan lebih rinci dan formulir pendaftaran dapat di down-load di website Panitia http://simpen-2007.jardiknas.org. Mohon email ini dianggap sebagai undangan, namun kalau sekiranya diperlukan undangan tertulis, akan kami usahakan.

    Terima kasih atas kerjasamanya.

    Wassalam
    Prof. Soekartawi/Depdiknas/Panitia

  28. Sadeli mengatakan:

    Pak dokter kok saya gampang sekeli buang air besar berbuih atau berlendir jika saya telat makan, minum es waktu perut kosong, makan pedas dll.

    Disini yang saya tanyakan gejala penyakit apa saya ini ? dan ini udah lama saya alami.
    Mohon penjelasannya.

    Demikian pertanyaan saya ini, saya ucapkan terima kasih.

    BEST REGARDS
    SADELI

  29. dani iswara mengatakan:

    @Sadeli:
    maaf baru saya jawab..krn blog ini tdk/jarang saya perbaharui..
    mengenai keluhan yg disampaikan, saluran cerna dan organ2nya (individual) bisa dikatakan sensitif thdp kondisi (situasi psikis, makanan/minuman tertentu, perut ‘kosong’, ‘kembung’), shg merangsang pergerakan otot2 dan zat2 cerna (dalam hal ini kerjanya akan meningkat). Zat makanan/minuman tdk sempat dicerna dgn baik, shg keluar dlm bentuk cair (+lendir, buih)

    jika dominan disertai faktor stres pula, dpt digolongkan dlm irritable bowel syndrome (IBS)

    semoga membantu

  30. ANDIK SETIAWAN mengatakan:

    promosi kesehatan sangat penting untuk mengefektikan sumber daya manusia

  31. archilooks mengatakan:

    More info about Hiv Aids Infection http://www.hivaids.co.nr

  32. Dr. soekartawi mengatakan:

    ‘ENTREPRENURIAL UNIVERSITY’: KONSEP DAN IMPLEMENTASINYA DALAM MENINGKATKAN MANAJEMEN PRODUKTIVITAS UNIVERSITAS*

    Ole: Soekartawi**

    ABSTRACT

    The word ‘Entrepreneur’ creates people often confuse in understanding ‘Entrepreneur University’ and ‘Entrepreneurial University’. This is because the term ‘Entrepreneurial University’ is a contradiction itself. The term Entrepreneur is generally used to refer to anyone who undertakes the organization and management of an enterprise involving independence and risk as well as the opportunity for profit. In the meantime, Entrepreneurial University is efforts in collecting entrepreneurial knowledge by connecting to external entrepreneurial sources. The idea of the entrepreneurial university is generally linked with ideas of technology transfer – establishing closer links between university research, on the one hand, and industry and commerce, on the other.
    The said confusion is understandable because historically, the universities have traditionally taught their students ‘how to think’ and not ‘how to make money’. They have thrived as non-commercial, sometimes anti-commercial institutions. This is true because Education Act of 2003 did not take the entrepreneurial aspects of universities into account.
    In some cases indicate that many universities successfully accomplish their primary mission of teaching and/or research, but they yet have not established or nurtured a tradition of new venture creation based on those teaching and research successes. This may be due to lack of entrepreneurial tradition (or culture). In order to establish such a culture of new venture creation within a university, decisions must be made to either spend limited resources to nurture early “model ventures,” or to spend the resources to create an infrastructure that will nurture many new ventures. Establishing a culture of new venture creation within a university requires significant energy and resources from stakeholders of the university, i.e. institutional, governmental, and private personnel. Decisions must be made to do things differently to create an infrastructure that will nurture many new ventures. To becoming a center of entrepreneurial activity, there are four elements that have significantly contributed to this change in our entrepreneurial culture, namely: (i) Establishment of a technology business incubator, (ii) Establishment of centers of coordinated research activities, (iii) Establishment of entrepreneurial elements in degree curricula, and (iv) Establishment of research linkages to businesses.
    Finally, in order to minimize risk and uncertainty particularly whether Entrepreneurial University is in line or not with the existing government policy in education, it is suggested that decision makers in universities shall understand clearly what is ‘The State of the Art’ of the concept Entrepreneurial University before it is adopted it.

    ————————–
    *Disampaikan pada Kuliah Tamu yang diselenggarakan oleh Program Pasca Sarjana Univ. Prof. Dr. Moestopo (UPDM) Jakarta, 22 Maret 2008. Artikel ini berisi pendapat pribadi dan tidak selalu mencerminkan pendapat universitas dimana penulis bekerja.
    **Guru Besar Universitas Brawijaya Malang.

  33. yoga mengatakan:

    tolong dong informasi tentang status pelayanan kesehatan melalui internet (telemedicine)dan statusnya di peraturan per uu an di indonwseia makasi ya sebelumnya

%d blogger menyukai ini: